Maiyahan

Massa kumpul 2-3 kali kecewa tidak diberitakan, karena mereka bersangka baik kepada media. Ribuan kali hampir tiap malam saya kumpul dengan massa, justru berharap jangan sampai diberitakan. Sebab pertama, kami mencari solusi, bukan nambah masalah. Kedua, 4 perangkat Demokrasi sudah terlanjur rusak, termasuk media. Indonesia salah kedadèn, Negara dan konstitusinya taqlid buta, ilmu pengetahuannya cacat, … Selengkapnya

Dari 4030 titik peristiwa massal cinta Indonesia bersama Kiai Kanjeng dan puluhan ribu yang saya keliling sendiri–belum tentu 2 atau 3 diberitakan. Saya berdoa kepada Tuhan: “Ya Allah lindungilah mimbar bebas kerakyatan kami. Ya Allah mohon public freedom communication bersama 10-30 ribu sesama rakyat kami hampir tiap malam, Engkau hindarkan dari pemberitaan media massa. Dengan … Selengkapnya

“A good fact is a bad News“. Keadaan yang baik adalah berita buruk, sehingga bukan berita. Keadaan buruk adalah berita baik, sehingga diutamakan. Kalau damai, rukun, Bhinneka Tunggal Ika, Islami, tidak dimuat. Kalau buruk, bentrok, bertengkar, tawur, konflik, jahiliyah, dimuat. Sudah lama doa media itu saya amini: ”amin ya Robbal ‘alamin”. Yang cari kebaikan, dianugerahi … Selengkapnya

Ada 10 juta orang berkumpul damai untuk cinta Indonesia, tapi mereka kecewa karena kebanyakan media massa utama nasional tidak jujur menyikapinya. Ke mana aja selama ini? Apakah mereka pikir sedang hidup di sistem Demokrasi, Negara Kejujuran, Media Obyektivitas dan Politik Waras? Sejak 22 Mei 1998 saya mentalak para penghina manusia, pelècèh masyarakat dan penindas bangsa … Selengkapnya

Saya diwajibkan agar selalu “memberi bagian” dari yang ada pada saya kepada Indonesia. Maka saya tulis buku “Indonesia, Bagian dari Desa Saya” pada 1979. Dan saya mematuhi itu sampai hari ini. Meskipun membaca jadwal undangan-undangan ke saya saja sudah lelah dan bosan–tetapi kelelahan dan rasa bosan itu dilarang menyertai saya ketika melaksanakannya. Bahkan berkeliling bersama … Selengkapnya

Ada yang melarang keras saya untuk minta bagian kepada Indonesia, menuntut bagian, melamar, mencalonkan diri, mengajukan diri, mengejar, berebut, bersaing, mengemis, apalagi mencuri. Katanya supaya saya jangan menambah jumlah hal-hal yang logikanya rendah dan yang menjijikkan di Indonesia.

Wahai Tuhan aku menemukan-Mu di setiap debu Indonesiaku Wahai Tuhan aku menemukan Indonesia di setiap huruf firman-Mu Wahai Tuhan Engkau temukankah Indonesia di setiap nafasku Wahai Tuhan Engkau temukankah diri-Mu di setiap detak jantungku

Saya tidak berani berposisi dan bersikap Parpol atau Ormas atau Golongan apapun. Sebab jadinya yang tidak segolongan dengan saya menjadi “orang lain”. Maunya saya satu hati bersama semua Saudara-saudara se-Indonesia.

Berjuang untuk Indonesia adalah berpikir Dunia. Saya menyayangi dan mendekap Indonesia untuk memperindah dunia, sekaligus melindungi Indonesia dari ancaman-ancaman dunia. Saya melarang diri saya berpikir suku, golongan, kelompok, aliran, faksi, Parpol, Ormas atau yang lokal-lokal lainnya.

Sampai hari ini yang dimaksud kemajuan adalah struktur bangunan fisik, pembangunan materiil, kemegahan kasat mata alias Ilmu Katon. Bukan Peradaban Manusia. Maka yang dilihat pada manusia hanyalah bagian meteriilnya. Berdasarkan kulit luarnya, identitasnya, ormasnya, parpolnya, profesinya, pakaiannya, madzhabnya, kategorinya, box-nya, kotaknya, tempurungnya, topeng kemegahan jasadiyahnya. Peradaban primitif dan dekaden seperti itu belum mengenal fenomena Semar … Selengkapnya