Maiyahan

Yang paling mendasar dan utama dari sifat durhaka manusia adalah manusia berlaku seakan-akan manusia menciptakan dirinya sendiri. Puncaknya manusia memproklamasikan “Hak Asasi Manusia”. Seolah-olah ia punya saham atas terciptanya sehelai rambutnya. Seolah-olah ia berinisiatif dan berkuasa atas detak jantung dan aliran darahnya. Seolah manusia sendirilah yang merancang hidup dan matinya. Itu bukan hanya durhaka, tapi … Selengkapnya

Di Abad 21, dengan industri 4.0, teknologi supra dan ilmu matahari terbit dari Barat, manusianya merasa paling hebat di antara ummat manusia sepanjang zaman. Tapi manusia dan kemanusiaan tidak menjadi fokus kemajuan. Manusia semakin tidak mampu memahami manusia. Yang disebut manusia hanya faktor teknisnya, tampilan casing-nya, performa topeng sosialnya, bahkan tingkat produktivitas materiilnya. Kalau ada … Selengkapnya

Kalau hak tidak dijunjung dalam keseimbangan dengan kewajiban. Kalau kewajiban tidak dipahami dari benih, akar dan sanad-matan. Kalau keinginan dimerdeka-merdekakan. Kalau kemerdekaan tidak dibimbing oleh hakekat batasan-batasan. Kalau kebutuhan tidak meregulasi nafsu dan keserakahan. Maka yang berlangsung dalam budaya bernegara dan peradaban berbangsa adalah deret hitung kebodohan dan deret ukur dismanajemen. Niat baik untuk mengatasi … Selengkapnya

Primer disekunderkan. Sekunder diprimerkan. Madzhab diagamakan. Ormas diaqidahkan. Pemerintah dimalaikatkan. Presiden dituhankan. Aturan manusia dilauhil-mahfudhkan. Syariat diijtihadkan. Ijtihad disyariatkan. Qoth’iy di-dhonny-kan. Dhonny di-qoth’iy-kan. Kebencian dipercintakan, cinta diperbencikan. Wajib dimakruhkan, haram disunnahkan, halal dipermusuhkan. Matematika diperdemokrasikan, demokrasi diperniagakan. Betapa parahnya bangsa ini, tidak belajar sudut pandang. Tidak sinau bareng sisi pandang, resolusi pandang, jarak pandang. Kaki … Selengkapnya

Kalau para cendekiawan di antara rakyat saja memperdebatkan kripik sebagai ketela, mempertengkarkan nasi pada ranah padi, atau bermusuhan karena tidak mampu memilah konteks mana kapas mana benang mana kain mana pakaian — bagaimana mungkin mereka semua layak memilih Presiden. Yang dipilih kemungkinan besar adalah Presiden Kerikil karena disangka Mutiara. Presiden Loyang karena dikira Emas. Presiden … Selengkapnya

Demokrasi memerlukan rakyat dengan tingkat pengetahuan, ilmu dan kualitas intelektual dan budaya yang memadai. Kalau manusia tidak punya perspektif pandang, sehingga tidak belajar memetakan sejatinya apa dan mana Pencipta kehidupan, apa dan mana alam semesta, tanah air, rakyat, warga, Negara, pemerintah — maka Presiden dianggap Penggede. Maka menjadi Presiden adalah prestasi tertinggi, karena potensial untuk … Selengkapnya

Secara umum rakyat dan bangsa Indonesia memang belum punya pengetahuan dan kemampuan yang mencukupi tentang bagaimana kehidupan ber-Negara. Tidak mengerti beda dan pilah antara Negara dengan Pemerintah. Misalnya tidak tahu kalau BUMN itu bukan BUMP, ASN bukan ASP, TNI dan Polri bukan aparat Pemerintah melainkan perangkat Negara. Juga MK, KY, KPK dll tidak terletak di … Selengkapnya

Pada umumnya rakyat Indonesia sangat pandai menjalani hidup. Mandiri. Kerja keras. Tangguh. Iguh dan ubet-nya ranking-1 dunia. Penghidupan mereka tidak terlalu tergantung pada baik buruknya Pemerintah. Mungkin itulah sebabnya mereka tidak pernah terdidik untuk pandai bagaimana memilih Presiden. Bahkan bagaimana sebaiknya tata cara memproses pemilihan Presiden mereka juga tidak peduli-peduli amat. Mereka tidak pernah benar-benar … Selengkapnya

Karena semua manusia, tanah, air, darat, laut, sungai, gunung, tambang dan apa saja adalah hak milik Allah–maka Presiden yang memimpin Negara logisnya ya atas perintah Allah. Presiden ikhlas memimpin karena diperintah oleh Tuhan, sehingga wajib menjalankannya. Menjadi Presiden itu bukan terutama soal hak, tapi kewajiban mengabdi. Kalau Tuhan yang perintah dan mewajibkan, Ia men-support, memfasilitasi, … Selengkapnya

Kalau ada orang menawarkan diri jadi Imam shalat, para makmum tidak akan memilihnya, atau minimal tidak meridlainya jadi Imam. Kalau ada orang mencalonkan diri jadi Pemimpin, masyarakat yang masih punya tawadlu, harga diri dan rasa malu: bisa merasakan bahwa itu orang sok hebat, merasa unggul dan tidak punya kerendahan hati. Kalau untuk punya Presiden caranya … Selengkapnya