Maiyahan

Orang Maiyah selalu tidak tega kepada pihak yang dipukul. Berpihak pada yang dianiaya. Membela yang ditindas. Menemani yang dicerca dan dihina. Tetapi kemudian yang dipukul balas memukul, sehingga Maiyah bergeser pemihakannya. Berikutnya mereka saling pukul memukul, saling menganiaya, mencerca dan menghina. Maka Maiyah berkonsentrasi mencintai Indonesianya, tanah airnya, Ibu Pertiwinya, rakyat kecilnya, Negara (KRI)-nya, dan … Selengkapnya

Warga Negeri Maiyah tidak memperdebatkan kebenaran, karena masih sama-sama mencarinya. Tidak ada kebenaran yang final dan mandek, karena hidup adalah proses. Kebenaran Tuhan itu mutlak, tetapi paham manusia atas kebenaran Allah bukan segala-galanya. Tidak ada yang memaksakan paham kebenarannya kepada lainnya, karena sama-sama belum tentu benar. Mungkin itu salah satu sebabnya mereka selalu mesra. (Mbah … Selengkapnya

Bagi masyarakat Maiyah, kebenaran yang diserap oleh batas pemahaman mereka adalah benih atau semacam bahan mentah. Kebenaran itu ditanam, ditumbuhkan, disirami, dirawat, dijadikan perilaku. Ngelmu kuwi kelakone kanti laku. Mereka berlatih merahasiakan kebenaran, karena yang ditunggu di luar dirinya adalah kebaikan. Fastabiqul khairat, bukan Fastabiqul haq. (Mbah Nun bersama Masyarakat Maiyah)

Yang berlangsung di kalangan masyarakat Maiyah adalah mekanisme tawashou. Saling mengingatkan dalam posisi sejajar dan egaliter. Itu dilakukan dengan cara yang benar (bil-haq), menurut hitungan kedua belah pihak. Serta dengan kesabaran (bish-shobr) untuk tidak setiap kali gatal sok mengingatkan. (Mbah Nun bersama Masyarakat Maiyah)

Tidak ada warga Maiyah yang hobinya menasehati, tutur-tutur. Tidak ada orang yang lebih unggul, lebin pandai atau lebih soleh, lebih alim, lebih terpelajar, yang memberi tausyiyah, atau ceramah, atau mau’idhoh hasanah. Setiap warga Maiyah adalah murid dan guru sekaligus bagi sesamanya. (Emha Ainun Nadjib bersama Masyarakat Maiyah)

Di masyarakat Maiyah tidak ada yang mengajari dan yang diajari. Tidak ada kegatalan untuk menasehati. Yang berlaku adalah thalabul ‘ilmi atau melaksanakan anjuran uthlubul ‘ilma. Yakni orang yang belajar, yang mempelajari atau melakukan pembelajaran. Andaikan ada yang lebih tahu atau lebih mengerti, maka yang dilakukannya adalah menjawab atau menginformasikan. (Emha Ainun Nadjib bersama Masyarakat Maiyah)

Yang bersikeras melanjutkan kedhaliman ada dua golongan. Pertama, bagian dari pelaku kedhaliman itu. Kedua, orang yang mendapat keuntungan atau bergantung penghidupannya pada kedhaliman itu. (Mbah Nun dan Masyarakat Maiyah)

Orang Maiyah berjalan di jalur para Negarawan dan Ulama sejati, tidak berada di wilayah perebutan kekuasaan Negara. Mereka menugasi dirinya untuk selalu merawat keutuhan Bangsa, menjaga persatuan dalam cinta, merajut kemesraan dalam kesatuan, siapapun yang duduk di kursi itu. (Mbah Nun dan Masyarakat Maiyah)

Orang Maiyah menjaga kemerdekaan setiap warganegara, tidak mempengaruhi dan mencampuri pilihan mereka,serta memastikan ketunggal-ikaan seluruh bhinneka Bangsa Indonesia. (Mbah Nun dan Masyarakat Maiyah)

Menyongsong Pilpres 2019, Orang Maiyah sudah terbiasa melatih akal sehat dan hati jernih. Sudah memiliki keputusan yang bebas dan menyimpannya dalam rahasia, sebagaimana demikian asas demokrasi. (Mbah Nun dan Masyarakat Maiyah)